Karawang-Bekasi akan tenggelam jika Waduk Saguling ambrol

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Karawang-Bekasi akan tenggelam jika Waduk Saguling ambrol “Dari 875 Juta meter kubik Saguling tambah 1,2 Milyar kubik Cirata, di Jatiluhur nambah lagi, akhirnya Karawang Bekasi terendam 22 meter,” - Manajer Sipil dan Lingkungan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling Haryanto.

Memasuki musim hujan, sudah selayaknya kita waspada pada bencana yang akan datang seperti banjir ataupun longsor. Biasanya banjir yang datang sebagian besar berasal dari aktivitas bendungan atau waduk yang penuh lalu air meluap mencari dataran yang lebih rendah. Air yang meluap pun bisa mendatangkan banjir bandang. Bagaimana bisa terjadi hal yang demikian?

Seperti yang terjadi pada tragedi Situ Gintung pada bulan Maret tahun 2009 silam menjadi contoh betapa pentingnya pengawasan dan pemeliharaan sebuah bendungan atau waduk. Dua juta meter kubik air yang meluncur dari tanggul Situ Gintung yang jebol memakan korban tak kurang dari 100 orang.

Bila dibandingkan dengan Waduk Saguling yang volume airnya mencapai 875 juta meter kubik, Situ Gintung masih bukan apa-apa. Bisa dibayangkan bukan, Situ Gintung saja bisa menelan sebayak 100 korban jiwa, apalagi  Waduk Saguling? Sungguh mengerikan jika jumlah air di waduk ini meluncur bebas akibat rusaknya dinding bendungan. Hal tersebut bukan tidak muungkin terjadi.

Dilansir dari situs Citarum.org, Waduk Saguling merupakan satu dari tiga waduk yang membendung aliran Sungai Citarum. Waduk ini berada di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Waduk Saguling sebagai pintu pertama sungai citarum yang mengisi dua waduk lainnya, yakni Waduk Cirata di Kabupaten Bandung, Purwakarta, dan Cianjur, serta Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta. Sebagai pintu pertama aliran sungai citarum, Waduk Saguling paling terkena dampak polusi dan pencemaran Citarum, di Saguling inilah semua kotoran disaring untuk pertama kali sebelum kemudian disaring kembali oleh waduk Cirata dan terakhir oleh waduk Jatiluhur.

Batas usia Waduk Saguling

Pada penelitian citarum pada tahun 2017, sisa usia Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diperkirakan tinggal 27 tahun apabila penanganan pencemaran air dan sedimentasi akibat pembabatan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum tidak dilakukan secara komprehensif. Seharusnya, usia Waduk Saguling minimal masih 31 tahun lagi.

Selama ini mungkin kita berpikir bahwa waduk tak memiliki batas usia. Sama halnya dengan bangunan biasa, waduk bisa saja mengalami kegagalan kontruksi.

Saat ini, laju sedimentasi di Waduk Saguling mencapai 4,2 juta meter kubik per tahun berupa lumpur dan sampah yang sebagian besar dari Citarum mengancam dua waduk berikutnya. Padahal, kapasitas normal penampungan sedimentasi di waduk hanya 4 juta meter kubik per tahun. Pada 2011 dari kapasitas penyimpanan lumpur sebanyak 167 juta meter kubik, sudah terisi 94,1 juta meter kubik.

Manajer Sipil dan Lingkungan PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling Haryanto mengatakan, selain memperpendek usia waduk, sedimentasi tersebut memperburuk kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling.

Waduk Saguling berperan vital memproduksi listrik interkoneksi Jawa-Bali. Pada 2012, PLTA Saguling menargetkan tenaga listrik ke sistem interkoneksi Jawa-Bali sebesar 2.764 gigawatt per jam setiap tahun. Tenaga listrik itu setara penggunaan bahan bakar minyak 650.000 ton setahun.

Kondisi tersebut menyebabkan ketinggian (elevasi) muka air Saguling semakin tahun semakin tinggi. Selain sedimentasi yang semakin parah, kualitas air di Saguling pun kini hanya bisa digunakan untuk industri. Sementara untuk air minum, bahan baku air minum, dan perikanan sudah dalam kategori buruk.

Haryanto mengatakan bahwa persoalan di Saguling tersebut, belum bisa diselesaikan secara kuratif untuk mengeruk sedimen per tahun sebesar 4,2 meter kubik misalnya, dibutuhkan dua ratus hektare lahan. Sulit untuk menemukan lahan yang tidak bermasalah, apalagi sedimennya sudah mengandung polutan.

Secara garis besar, terganggunya potensi air dan waduk Saguling terjadi dikarenakan tata guna lahan yang tidak konsisten, pengelolaan lahan yang salah, dan pola hidup masyarakat yang merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, ditambah dengan tingginya angka pemukiman di cekungan Bandung yang pada 2010 jumlahnya diperkirakan mencapai kurang lebih 78.675.006 jiwa, padahal idealnya 3-4 Juta. Hal ini lantas merambat kepada persoalan berkembangnya permukiman tanpa perencanaan yang baik dan selanjutnya akan mengarah pada permasalahan alih fungsi lahan konservasi menjadi pertanian, permukiman, dan industri.

Dampak gagalnya Waduk Saguling

Kekhawatiran gagalnya waduk Saguling juga tak terlepas dari kekuatan waduk yang kian hari permukaan air waduk semakin tinggi dan tekanan air ke dinding waduk semakin kuat. Air menjadi overtopping (melebihi puncak bendungan) yang membuat dinding puncak bendungan tergerus. Jika air limpas ke tubuh waduk, modelnya bisa seperti Situ Gintung.

Ketika terjadi gagal bendungan, Haryanto mengatakan akan terjadi efek domino di mana 875 juta meter kubik air akan membebani dua waduk lainnya yakni waduk Cirata dan Jatiluhur yang sumber airnya berasal dari sisa pengolahan di Waduk Saguling.

"Pada kondisi banjir, air lebih cepat melimpas dan membebani dua waduk di bawahnya yaitu Cirata dan Jatiluhur. Beban air ke dua bendungan itu akan lebih banyak. Jika Saguling gagal, otomatis kedua waduk yakni Cirata dan Jatiluhur juga gagal,” ujar Haryanto.

Karawang dan Bekasi terendam 22 meter

Tidak hanya masalah kelistrikan saja, bencana nasional pun akan terjadi jika Waduk Saguling yang merupakan salah satu PLTA terbesar di Jawa Barat ini jebol. Beberapa daerah seperti Purwakarta, Karawang hingga DKI akan ikut terkena banjir. Besarnya banjir ini bahkan bisa merendam Karawang  dan Bekasi sekitar 22 meter.

“Dari 875 Juta meter kubik Saguling tambah 1,2 Milyar kubik Cirata, di Jatiluhur nambah lagi, akhirnya Karawang Bekasi terendam 22 meter,” pungkas Haryanto.

Sementara itu, Ahli Muda Pengelolaan Lahan dan Lingkungan PT Indonesia Power, Amin Alimin menambahkan, Bendungan Saguling sangat rentan jebol dengan jumlah air yang semakin tinggi. Sebab, material inti waduk yang beroperasi pada tahun 1985 ini hanya tanah merah. "Waduk Saguling bukan dari beton tapi urugan tanah. Selebar rambut saja retak sudah gawat. Haram hukumnya air waduk overtopping, bisa terjadi gagal bendungan," tandas Ali.

Dari penjabaran di atas, dapat kita simpulkan bahwa untuk melakukan konservasi waduk perlu adanya atensi dari berbagai pihak. Baik pihak pengelola, pemerintah maupun masyarakat harus ikut andil, karena dampak yang diberikan bukan hanya untuk daerah sekitar waduk saja melainkan juga di beberapa kota yang dilewati oleh DAS (Daerah Aliran Sungai) bahkan bisa memakan korban jiwa ratusan kali lipat dari tragedi Situ Gitung. Jadi jika tak dimulai dari sekarang, kapan lagi?

Erick Thohir sebut ibu-ibu paling sulit dipolitisasi
PSI ajak perempuan tak bela politisi Sontoloyo dan Genderuwo
Pertiwi deklarasi dukung Jokowi-Ma'ruf
Ini alasan mengapa harus puasa sebelum tes darah
Apakah pornografi mempengaruhi kualitas hubungan Anda dan pasangan?
Dituduh Megawati tak punya visi-misi, PKS: mustahil dong
Fahri Hamzah dorong pemuda keliling dunia
PKS usul kubu Prabowo-Sandi duduk bersama
PPP muktamar dukung Prabowo-Sandi
Fahri minta Prabowo tak kendor kritik Jokowi
KPK didesak periksa politisi PAN terkait percaloan anggaran daerah
Kubu Jokowi sebut tim ekonomi Prabowo lemah
Fahri Hamzah prihatin dengan kubu Prabowo
Ingin selamat, Parpol lain bisa tiru Demokrat
Kubu Jokowi: kita tak terjebak diksi kubu sebelah
Fetching news ...